SMS/WA: 0812-9373-3251

0

Tidak ada produk

Pengiriman Ditentukan kemudian
Jumlah Rp‎ 0
Lihat cart Selesai

Produk berhasil ditambahkan ke cart.

Jumlah
Jumlah

Terdapat 0 item pada cart Anda. 1 item di cart.

Total produk (Termasuk pajak)
Total ongkos kirim (Termasuk pajak) Ditentukan Kemudian
Jumlah (Termasuk pajak)
Belanja Lagi Proses pembayaran

Saat Coklat Berbicara

Saat Coklat Berbicara

Cinta tak dapat dipaksakan. Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya untuk masuk ke dalam hati seseorang. Dan apabila ia sudah masuk maka tidak ada seorangpun yang dapat menyembunyikannya.

Bila aku kembali mengingat waktu aku pertama kali berjumpa dengan dirimu, ingin rasanya aku selalu berada di masa itu. Tetapi itu berarti aku harus meninggalkan masa kini dan menyeberangi jurang waktu yang terpisah sangat jauh. Dapatkah hal tersebut terjadi sehingga aku bisa kembali merasakan keindahan kala cinta datang memenuhi hidupku. Andaikan sekarang aku bisa memilih, dan kalau hal itu bisa terjadi, maka aku akan memilih untuk melupakan segala sesuatu yang terjadi selama tujuh bulan kita bersama.

Saat itu aku dan kau masih hanya sebatas teman biasa saja. Belum ada ikatan di antara kita berdua. Aku berjalan di jalan yang aku pilih dan kau juga berjalan di jalan yang kau pilih. Aku sendirian melewati setiap dentuman detik dan kau juga sendirian melewati lorong waktu. Aku dan kau berjalan di jalan yang berbeda sambil mengikuti apa yang menjadi kata hati. Hati dimana semuanya akan bermula dan hati dimana semuanya akan berakhir. Hingga akhirnya sang waktu tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi. Ia mempertemukan kita berdua pada suatu jalan yang bernama jalan cinta. Aku masih ingat setiap detik peristiwa itu. Kala itu malam sangat cerah dan bintang buatan sang Khalik menjadi hiasan malam terlihat begitu menakjubkan.

Malam itu aku merasakan kegelapan perlahan-lahan mulai meninggalkan ruang di hatiku dan kemudian digantikan oleh suatu bentuk keindahan yang dikenal dengan nama cinta. Aku telah jatuh cinta kepadamu. Malam itu aku memberanikan diri menatap ke dua matamu. Kau membalas pandanganku dengan sorot matamu yang bercahaya bagaikan kilau bintang malam itu. Aku tidak dapat memendam perasaan cinta yang ada di dalam hati ini lebih lama lagi. Bisa-bisa nanti aku membuat malam menjadi marah dan mengurung kembali cintaku bersama kegelapannya. Aku tak mau cintaku tertawan kembali di saat aku kini telah menemukan jalan keluar dari pekatnya hitam hati.

Malam itu, aku berkata kepadamu kalau aku mencintai dirimu. Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu mudahnya bagaikan kobaran nyala api yang mencoba menjilat segala sesuatau yang ada di sekitarnya. Mungkin memang benar kalau cinta itu tak bisa dipaksakan. Cinta itu akan muncul dengan sendirinya kalau memang sudah tiba waktu baginya untuk masuk ke dalam hati seseorang.

Setelah cinta keluar dari mulutku, waktu seakan-akan berhenti. Sekejap semuanya terasa sunyi dan sepi. Aku diam tak tahu apa lagi yang harus aku bicarakan, cinta adalah kata terakhir yang ada di dalam kepalaku. Dalam sunyi dan sepi aku menunggu jawabanmu tetapi bibirmu tak bergerak, terkatup diam. Hanya senyum di bibirmu saja yang seakan-akan berbicara namun aku tetap tak bisa memahaminya.

Aku kemudian menggengam tanganmu sepanjang malam itu. Kaupun membalas genggaman tanganku. Aku tak bisa menafsirkan apa arti dari gengaman tanganmu yang terasa hangat dan senyumanmu yang membawa seribu tanda tanya. Aku tak tahu ada makna apa di balik senyuman dan tatapan matamu malam itu. Baru seminggu kemudian aku mengetahui maknanya. Kau juga mencintaiku seperti aku mencintai dirimu. Aku atas nama cinta mengucapkan terima kasih kepada malam karena tidak lagi memenuhi ruang di hatiku dengan kegelapannya. Kini sebuah bintang telah bersinar di dalam hatiku.

Aku lihat bintang masih tetap bersinar di atas sana. Jumlahnya memang tak terlalu banyak. Tetapi cahayanya masih bersinar sama seperti malam itu. Berbeda dengan malam itu, malam ini aku merasakan bintang yang ada di dalam diriku mulai meredup. Cahayanya mulai melemah. Perlahan-lahan kegelapan kembali merasuk ke dalam hatiku. Aku tak tahu bagaimana caranya agar bintang itu bisa kembali bersinar. Aku tak tahu. Semenjak aku dan kau menjadi sepasang kekasih segala sesuatunya terjadi di luar dari apa yang bisa aku bayangkan. Aku bingung mengapa akhirnya menjadi seperti ini, di saat seharusnya semua berjalan begitu indah dan menyenangkan seperti kisah di dalam film-film yang aku tonton, buku-buku yang aku baca, dan cerita-cerita cinta yang aku dengar.

Besok adalah hari Valentine. Malam ini aku pergi ke mall untuk membeli kue coklat yang akan kuberikan kepada Raine sebagai hadiah baginya di hari Valentine. Mall yang aku kunjungi terlihat ramai oleh para pengunjung yang sebagian besar adalah remaja seusiaku. Di setiap sudut mall telah dihiasi dengan dekorasi-dekorasi Valentine dan tulisan selamat hari kasih sayang. Aku berjalan sendiri melewati keramaian pengunjung itu, melihat ke kanan ke kiri mencari toko yang menjual kue coklat. Kue coklat yang akan aku berikan kepada Raine. Aku berharap semoga ia merasa senang dengan kue coklat yang aku berikan. Semoga besok aku siap untuk mengutarakan sekali lagi apa yang menjadi perasaanku kepadanya. Jangan sampai malam bersama gelapnya berhasil menguasai hatiku lagi.

Akhirnya aku berhasil menemukan toko kue yang kucari-cari. Rupanya banyak orang yang mau membeli kue di toko kue itu. Terlihat antrian pembeli sampai ke luar toko. Aku melihat jam di tanganku pukul setengah sembilan malam. Sepertinya aku masih sempat untuk membeli kue sebelum toko tutup jam sembilan. Aku melangkah masuk ke dalam baris antrian. Aku mencoba menghitung jumlah pembeli yang ada di depanku, semuanya ada sekitar sepuluh orang. Semoga aku tak berlama-lama di dalam antrian ini.

Rencana memberikan kue coklat sebagai kado Valentine buat Raine aku dapatkan setelah aku membaca suatu artikel yang bercerita kalau seorang pria memberikan kue kepada pasangannya sebagai hadiah maka itu bertanda pria itu sebenarnya sudah tidak suka lagi kepada pasangannya. Semoga Raine bisa memahami makna di balik pemberianku ini. Aku tak tahu dia suka makan kue atau tidak, bahkan sejujurnya selama tujuh bulan berpacaran aku sama sekali tidak tahu apa yang disukai oleh dirinya.

Tujuh bulan masa pacaran aku lalui dengan perasaan yang tersiksa. Tujuh bulan yang seharusnya tidak lama menjadi terasa lama sekali. Sebulan pertama aku dan Raine berpacaran, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku mencari-cari pasangan yang tepat akhirnya aku menemukan seorang wanita yang aku yakini akan menjadi bagian dari hatiku. Meskipun Raine bukan seperti wanita yang secara fisik kuimpi-impikan dan hanya seorang wanita berparas biasa, namun ada bagian dari Raine yang sangat kusukai, yang membuat aku tidak bisa berlama-lama membisu, yaitu rasa belas kasih yang dia miliki kepada sesama.

Aku melihat jam tanganku kembali, sekarang sudah menunjukkan jam delapan lewat tiga puluh lima menit. Jarum detik berjalan memutar melewati angka-demi angka. Aku terdiam memperhatikan setiap pergerakannya. Suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Waktu menjadi berjalan terasa lambat. Tiba-tiba dari arah belakangku tedengar suara yang memanggil namaku. Aku lalu menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya aku melihat Raine sedang tersenyum dengan matanya yang bersinar menatap kepadaku.

"Hai...Billy, mau beli kue?"

Aku masih tak percaya kalau Raine ada bersama diriku saat ini. Aku membalas senyumannya.

"Raine sedang apa kamu di sini? Kau datang sendiri atau bersama orang lain?"

"Aku sendiri...kebetulan aku juga mau membeli kue. Sebenarnya aku sudah mau pulang ketika melihat antrian yang begitu panjang tetapi sewaktu aku melihat kau juga ikut mengantri aku ingin mengantri juga."

Wajah Raine terlihat begitu senang. Aku tak tahu apakah aku juga harus merasa senang dengan hadirnya Raine bersamaku saat ini. Aku memandang wajah Raine, aku tak berani menatap matanya berlama-lama apalagi kalau mengingat rencanaku buat Raine.

"Baguslah Raine, aku juga tadi sudah bosan antri sendirian, untung saja Raine datang jadi ada teman ngobrol," kataku kepada Raine.

Beberapa pembeli baru saja menyelesaikan pembelian mereka. Aku melangkah maju ke depan. Kini yang tersisa tinggal tiga orang lagi. Aku terus menatap ke depan, berpura-pura kalau Raine tidak ada di belakangku walaupun aku tahu Raine masih ada di belakangku namun aku tak tahu harus membicarakan apa dengannya. Mengapa di saat seperti ini aku selalu merasa tidak tahu apa yang harus dibicarakan?

Aku melihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul delapan lewat 45 menit. 15 menit lagi toko akan segera tutup. Aku perhatikan jarum detik yang terus bergerak, suara detaknya terdengar sampai ke telingaku. Sebenarnya aku memiliki impian akan suatu hari Valentine yang indah. Satu hari dimana aku bisa melewatinya bersama dengan orang yang aku kasihi. Berbagi kasih pada hari dimana semua orang di seluruh dunia bersama-sama merayakannya. Sepertinya hari Valentine tahun ini impianku tak akan terwujud. Karena besok aku dan Raine sudah berjanji untuk berbicara mengenai hubungan kami.

Raine kembali bertanya kepadaku, "Bily kamu mau beli kue apa?"

"Aku mau beli kue coklat?" Jawabku singkat.

Raine kembali bertanya, "Kau suka kue coklat Billy?"

Aku hanya menganggukkan kepalaku saja.

"Sama yah...aku juga mau membeli kue coklat dan aku juga suka kue coklat."

Aku memberi senyum kepada Raine sebagai tanda kalau aku senang ia memiliki selera yang sama dengan aku.

"Kau masih ingat film yang pernah kita tonton dulu, judulnya Chocolate? Mulai dari sejak menonton film itulah aku semakin menyukai coklat."

"Yah aku ingat film itu, ceritanya mengenai seorang Ibu bersama anaknya yang pindah ke suatu daerah dan di sana mereka memulai usaha baru yaitu membuat kue coklat."

Raine mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian dia berkata, "Benar Bily, cerita film itu sangat bermakna bagi diriku."

"Oh…ya? Makna apa?", tanyaku.

"Dari film itu aku menjadi yakin kalau coklat dapat merubah sifat orang menjadi manis semanis coklat."

Mata Raine tampak bersinar saat ia mengatakan hal itu. Aku menganggap Raine hanya mengada-ada saja. Tetapi tak ada salahnya kalau Raine memiliki pikiran seperti itu.

Syukurlah berarti sebentar lagi aku bisa segera pulang ke rumah. Aku melihat jam menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh menit. Kini hanya satu orang lagi yang ada di hadapanku. Aku sudah mengantri hampir setengah jam. Semoga toko itu masih memiliki persedian kue coklat, kalau tidak, maka aku terpaksa harus membelinya besok hari. Sambil menunggu giliranku tiba aku mencoba mengingat-ingat film Chocolate yang tadi dibicarakan oleh Raine. Memang kami berdua pernah menonton film itu. Itu adalah film yang pertama kali kami tonton saat kami sudah pacaran.

Awalnya saat aku dan Raine menjadi sepasang kekasih semuanya terasa menyenangkan. Aku merasa memiliki seseorang yang bisa memberikan semangat saat aku membutuhkannya. Aku juga merasa menjadi lebih lengkap karena memiliki seseorang yang bisa mengisi hatiku. Aku yakin Raine adalah tempat perlabuhan terakhir bagi hatiku. Aku bahkan sudah membayangkan kalau aku dan Raine akhirnya akan menikah.

Namun semuanya itu berubah. Satu demi satu harapanku runtuh. Semakin lama aku mengenal Raine semakin aku menyadari kalau selama ini ternyata ia tidak mencintai diriku seperti yang aku kira. Aku mulai menyadarinya setelah hubungan kami berjalan selama dua bulan.

Pada mulanya aku melihat perasaan Raine yang sebenarnya terhadapku dari gelagatnya saat aku ada bersama-sama dengan dia. Sepanjang aku dan Raine berjalan bersama, aku jarang melihat Raine tertawa dan merasa nyaman bersamaku. Lalu setiap pertemuan kami selalu saja menjadi saat-saat yang membosankan. Aku tak tahu apa yang Raine rasakan tapi aku sendiri sudah tidak bisa tahan lagi berpura-pura menikmati hubungan bersama Raine. Lalu aku berusaha merubahnya. Aku berusaha menjadi orang yang bisa Raine banggakan dan menjadi orang yang bisa membuat Raine tertawa. Tapi semua itu tidak berhasil. Aku kehabisan tenaga dan tidak ada sesuatupun yang berubah.

Aku masih tetap berjuang mempertahankan hubungan kami. Hingga suatu saat, dua bulan yang lalu, saat hubungan kami memasuki bulan ke lima, Raine berkata kepadaku kalau ia awalnya menerima cintaku karena merasa kasihan apabila ia menolak cintaku. Mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Raine sendiri aku berusaha bersikap tenang walaupun sebenarnya aku merasa marah sekali. Aku berusaha mendengar penjelasan Raine dengan sabar walaupun sebenarnya aku ingin berteriak di depan mukanya tapi yang muncul hanya segaris senyuman di bibirku.

Kemudian Raine meminta maaf kepadaku dan berkata kalau ia sudah mulai mencintai diriku. Raine juga berjanji untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya. Aku tidak tahu apakah aku harus marah dan memutuskan Raine atau memaafkan dan mencoba mengerti dirinya. Lagi-lagi tatapan mata Raine yang bersinar membuat aku lupa akan semua kesalahannya. Aku menerima permintaan maaf Raine. Bagiku setiap orang wajar berbuat kesalahan dan layak untuk memperoleh kesempatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

Ternyata memaafkan itu tidak semudah yang aku bayangkan. Raine memang berubah. Ia menjadi lebih memperhatikan diriku dan lebih memiliki inisiatif membangun komunikasi. Aku benar-benar melihat perubahan dalam diri Raine, melalui perhatian dan perlakuannya ia hendak menunjukkan kalau ia mencintai diriku.

Hatiku berusaha untuk menerima segala kebaikan Raine namun hatiku itu terlanjur sudah terluka saat Raine mengatakan ia menerima cintaku oleh karena kasihan melihat diriku apabila ia menolak cintaku. Segala perubahan yang Raine perlihatkan tak bisa lagi menyembuhkan hatiku yang terlanjur sudah menjadi pahit.

Aku memutuskan membiarkan hubungan kami menggantung begitu saja tanpa suatu kejelasaan. Sudah dua bulan aku tidak pernah bertemu lagi dengan Raine. Menelepon sekalipun tidak pernah. Hanya Raine yang sekali-kali menelepon menanyakan kabarku. Aku sudah tidak bisa menerima Raine lagi di dalam hatiku. Perasaan telah ditipu dan disakiti membuat aku sangat membenci Raine. Dengan sepihak aku sudah menganggap tidak ada lagi hubungan di antara kami berdua. Mulai sejak itulah hatiku mulai kembali dikuasai oleh gelapnya malam yang mengaburkan cahaya sinar bintang di dalam hatiku.

"Bily…Bily…!" Raine memangil diriku.

"Ada apa Raine?" Aku tak sanggup memandang wajahnya, yang terlintas di kepalaku setiap kali melihat wajahnya hanyalah bagaimana caranya aku mengatakan kepada dirinya kalau aku mau mengakhiri hubungan kami tanpa melukai perasaannya.

Raine kembali berkata, "Kau belum memberitahu aku kenapa kau suka coklat?"

Pertanyaan Raine ada-ada saja, aku berpikir mungkin pertanyaan itu hanya usaha dia untuk memulai suatu pembicaraan.

"Raine, aku suka coklat karena coklat itu membuat kenyang perutku."

Aku tertawa. Aku tak tak tahu apa yang sebenarnya yang sedang aku tertawakan, apakah jawabanku yang konyol atau wajah Raine yang terlihat binggung setelah mendengar jawabanku. Raine kemudian juga tertawa lalu ia berkata, "Aku suka coklat karena coklat itu rasanya manis dan dapat membuat hati orang yang memakannya menjadi semanis coklat."

Suara si penjual kue menyuruh aku untuk maju ke depan. Kini giliranku untuk memesan sudah tiba. Aku berkata kepada Raine supaya memesan bersama-sama dengan diriku.

Setelah mendapatkan pesanan kue yang kami inginkan, kami berdua berjalan keluar dari mall. Kuperhatikan jam tanganku, sekarang sudah jam sembilan tepat.

Di luar mall Raine memanggil diriku, "Bily…?."

"Ada apa Raine?"

"Besok kita jadi bertemu?"

"Ya Raine sesuai dengan kesepakatan kita sebelumnya?"

"Bily…?" Raine menyebut namaku lagi.

"Ada apa Raine?" jawabku.

"Maafkan kalau selama ini aku salah."

Aku menghentikan langkahku. Kupandang diri Raine, Raine mengambil sekotak kue coklat dari dalam kantong plastiknya.

Aku menyambut tangan Raine yang terjulur itu. Sekotak kue coklat diberikan Raine kepadaku.

"Raine apa maksud…."

Belum selesai aku berbicara, Raine sudah melangkah pergi meninggalkan aku. Aku mau mengejarnya tapi aku berpikir kalau-kalau Raine sebenarnya sudah mengetahui rencanaku esok hari. Dari kejauhan Raine melambaikan tangannya dan kemudian berbalik lagi sampai akhirnya ia menghilang dari pandanganku.

Aku berdiri sambil memegang kue coklat pemberian Raine. Aku memandangi kue coklat itu lalu seakan-akan aku mendengar suara Raine terucap di dalam kepalaku,

"Bily...kue coklat ini buatmu. Kau suka coklatkan?"

Besok hari Valentine, aku pandangi langit, ada bintang, tak banyak, tapi ia bersinar.

*Wrote by dewa-tuhor.com

Leave a Reply

* Name:
* E-mail: (Not Published)
   Website: (Site url withhttp://)
* Comment:
Type Code
Mohon tunggu...