SMS/WA: 0812-9373-3251

0

Tidak ada produk

Pengiriman Ditentukan kemudian
Jumlah Rp‎ 0
Lihat cart Selesai

Produk berhasil ditambahkan ke cart.

Jumlah
Jumlah

Terdapat 0 item pada cart Anda. 1 item di cart.

Total produk (Termasuk pajak)
Total ongkos kirim (Termasuk pajak) Ditentukan Kemudian
Jumlah (Termasuk pajak)
Belanja Lagi Proses pembayaran

Periodesasi Kesusastraan Rusia

Periodesasi Kesusastraan Rusia

Kesusastraan Rusia terkenal dengan novel, puisi, dan dramanya yang memperlihatkan keterlibatan moral, religi, dan filsafat yang mendalam.

Gejala munculnya kesusastraan di Rusia telah ada pada tahun 900-an dengan tersebarnya agama Kristen di negeri ini, namun karya-karya besar kesusastraan Rusia baru mulai ditulis pada tahun 1800-an. Sejak Revolusi Rusia tahun 1917, kegiatan kesusastraan mulai diawasi pemerintah Komunis. Meskipun demikian, para sastrawannya berusaha keras untuk melepaskan diri dari sensor pemerintah.


Periode Sastra Awal

Tersebarnya agama Kristen di daerah Rusia dari Kekaisaran Bizantium pada tahun 988 mengakibatkan masuknya kesusastraan religius ke negeri ini. Sebagian besar sastra masa itu berisi riwayat perang-perang suci Gereja, khotbah-khotbah termasyhur, himne, dsb. Seni cetak yang baru ada di Rusia pada tahun 1564 menyebabkan sebagian besar karya tersebut dikerjakan dengan tulisan tangan oleh para rahib di biara-biara.

Pada sekitar tahun 1100 berkembang karya-karya kronik berupa catatan-catatan peristiwa Istana Kiev. Salah satu karya yang terkenal adalah prosa liris berjudul Kisah Igor. Pada tahun 1400-an terbit pula buku serupa, Pertempuran di Sungai Don, yang melukiskan kemenangan Rusia atas pendudukan bangsa Tartar. Setelah itu berkembanglah kesusastraan Moskwa bersamaan dengan berkuasanya negara itu atas Rusia. Kesusastraan yang lebih bersifat mannerisme ini menekankan pujian terhadap para tsar (kaisar) di Moskwa.


Periode Permulaan Sastra Modern

Setelah mengisolasi diri sejak tahun 1100, pada tahun 1600-an Rusia menerima pengaruh kebudayaan Barat secara besar-besaran. Banyak karya sastra Barat, seperti puisi, kisah ksatria, dan fabel.diterjemahkan atau disadur di Rusia. Tokoh-tokoh yang muncul dalam jaman ini antara lain Avvakum, seorang biarawan, yang menulis otobiografi dengan gaya tajam dan ekspresif; Simeon Polotsky, juga seorang biarawan, yang mengadakan pembaharuan terhadap puisi Rusia yang selalu memuja tsar dan keluarganya.

Tokoh amat kuat yang memasukkan budaya Barat ke Rusia adalah Tsar Peter I (Peter Agung). la memerintahkan penerjemahan besar-besaran karya sastra Barat sehingga pada tahun 1700-an terjadi gerakan westernisasi dalam sastra. Sejak itu, banyak sastrawan Jerman, Inggris, dan Perancis yang berpengaruh di Rusia. Tokoh-tokoh yang terkenal adalah Pangeran Antiokh Kantemir, diplomat yang juga penyair satir, dan Mikhail Lomonosov, penyair yang sering disebut bapak kesusastraan modem Rusia.


Periode Sastra Klasik

Setelah pembaharuan Lomonosov pada kesusastraan di sekitar tahun 1740, berkembanglah sastra neo-klasik di Rusia akibat pengaruh gerakan serupa di Eropa. Jaman ini melahirkan sastrawan-sastrawan seperti Alexander Sumarokov yang menulis puisi, drama, dan fabel; Wasili Iwanovikh Maykov, seorang penyair epik; Denis Fonvizin, penulis komedi yang sering mengritik para tuan tanah. Itu pula sebabnya Katarina yang Agung melarang Fonvizin menyiarkan karya-karyanya.

Penyair terkenal masa ini ialah Gavriil Derzhavin yang banyak menulis ode bagi Ratu Katarina. Sejak dialah sastra neoklasik Rusia mengalami titik balik ke sastra Romantik. Pada jaman peralihan ini muncul penulis fabel bergaya humoristik yang termasyhur, Ivan Krylov.


Periode Sastra Romantik

Aliran neoklasik yang mementingkan rasionalisme dan patokan yang ketat akhirnya didesak oleh aliran romantik yang lebih menekankan emosi dan kebebasan individu. Aliran ini mulai terlihat di Rusia pada akhir tahun 1700-an. Sekitar tahun 1790 berkembang aliran sastra yang mementingkan perasaan dan imajinasi, sehingga lahirlah aliran sentimentalisme dalam sastra.

Penulisnya yang terkenal ialah Nikolai Karamzin. la menulis Liza yang Malang, kisah gadis tani yang ditinggalkan kekasihnya, seorang bangsawan. Penulis-penulis akhir tahun 1790-an yang lain lebih menekankan kecintaan terhadap alam dan suasana perasaan, termasuk Vasily Zhukovsky, Konstantin Batyushkov, yang banyak menerjermahkan sajak-sajak romantik dari sastra Inggris dan Jerman, di samping menulis puisi-puisi lirik sendiri.

Puncak gerakan yang disebut Jaman Emas Puisi Rusia terjadi sekitar tahun 1820. Pada masa itu pengaruh Shakespeare dan Lord Byron amat kuat. Sastrawan romantik terbesar Rusia ialah Alexander Pushkin yang terkenal dengan bahasanya yang pekat dan ekspresif sehingga sulit diterjemahkan ke bahasa lain tanpa mengurangi nilainya. Pushkin rnenekankan tempat manusia dalam masyarakatnya. karya-karyanya meliputi puisi, drama, dan novel.

Eugene Onegin (1823-1831) dan Penunggang Kuda Perunggu (1833) merupakan puisi besarnya. Dramanya, Boris Godunov (1825), memperlihatkan pengaruh Shakespeare. Novelnya Putri Sang Kapten (1836), kisah pemberontakan petani Purgachev yang mengalami sensor pada jamannya dan beberapa cerpennya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sastrawan-sastrawan lain pada puncak romantik Rusia adalah Yevgeny Baratynsky, Baron Anton Delwig, Wilhelm Kuchelbecker, dan Alexander Griboyedov.

Pada akhir jaman romantik, sekitar tahun 1830-an, kecenderungan kepada kebebasan bentuk gaya merajalela, sehingga penekanan perasaan dan nafsu manusia dikembangkan. Akibat politik dan korupsi menjadi tema favorit, sensor pemerintahan tsar terhadap kesusastraan juga semakin keras. Tokoh-tokoh sastrawan saat itu adalah Mikhail Lermontov.

Ia menulis puisi dan novel, lblis (1839) dan Pahlawan Jaman Kita (1840), yang berisi kritik sosial dan politik masa itu; Fyodor Tyutchev yang menulis puisi Vision (1829), Mimpi di Laut (1836), dan Malam Kudus (1849); Nikolai Gogol, penulis besar Rusia yang amat terkenal di Indonesia. Dengan gaya humor, Gogol banyak menvoroti kelemahan-kelemahan spiritual manusia. buku-bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Taras Bulba (1835), Jiwa-Jiwa Mati (1824), drama Inspektur Jendral (1836), dan beberapa cerita pendek Baju Mantel dan Hidung.


Periode Sastra Realisme

Sejak tahun 1840-an berkembanglah aliran realisme dalam kesusastraan Rusia meskipun bayang-bayang pengaruh romantik masih cukup kuat. Perhatian utama kaum realis adalah masalah-masalah sosial dan politik. Tokoh pertama yang muncul dari aliran ini ialah Ivan Turgenev, novelis dan dramawan, yang dengan baik memahami kondisi masyarakat Rusia saat itu.

Karyanya yang penting, Corat-coret Seorang Olahragawan (1852), melukiskan sikap simpatik para petani-budak yang digambarkannya berjiwa lebih mulia daripada para tuan tanah yang kasar dan tamak; Rudin (1856) serta Ayah dan Anak (1862), menggambarkan rasa frustrasi kaum intelektual muda yang menyaksikan keterbelakangan bangsanya namun tak kuasa berbuat banyak karena saat untuk perubahan belum sampai. Selain itu, Turgenev juga gemar mengolah tema-tema percintaan seperti terlihat dalam Asya (1858), Cinta Pertama (1860), dan Sebulan di Desa (1850).

Tokoh kedua, Ivan Goncharov, beraliran politik liberal. Novel terkenalnya, Oblomov (1859), berkisah tentang konflik batin seorang tuan tanah dengan pikiran-pikiran liberalnya. Alexander Ostrowsky, seorang penulis drama yang produktif, banyak mengecam kelas menengah bangsanya yang dinilainya tamak, tidak jujur dan ingin berkuasa, terutama para pedagangnya. Karya-karyanya antara lain adalah Kekayaan Bukan Kejahatan (1854), kisah pedagang yang mengawinkan anak gadisnya dengan seorang bajingan kaya, Badai (1860) yang mengisahkan penderitaan seorang istri akibat sikap tirani ibu mertuanya yang kaya.

Puncak realisme terjadi pada tahun 1860 dan 1870an di tangan dua sastrawan besar Rusia, LEO TOLSTOY dan Fyodor Dostoyewsky. Tolstoy menulis novel-noveI tebal mengenai tahap kehidupan manusia sejak lahir sampai mati yang menekankan keagungan spiritual manusia. Novel-novelnya antara lain Perang dan Damai (1869), Anna Karenina (1875-1877), Kematian Ivan Ilyits (1886), dan novel-novel biografi serta fabel. Dostoyewsky terkenal karena novel-novelnya menggarap konflik-konflik kejiwaan manusia, seperti tergambar dalam bukunya Kejahatan dan Hukuman (1866), Karamazov Bersaudara (1880), dan berbagai karyarya yang lain.

Pada saat surutnya aliran realisme di Rusia tahun 1890-an akibat kerasnya tsar menekan kaum reformator, kesusastraan Rusia banyak menghasilkan drama dan cerita pendek dari dua tokoh termasyhurnya, Anton Chekov dan Maxim Gorki. Chekov menulis Paman Vanya (1898), Kebun Ceri (1904), dan Burung Camar.

Drama-drama Chekov yang termasyhur di seluruh dunia ini serta banyak cerita pendeknya telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Di Indonesia Gorki lebih dikenal sebagai penulis cerpen karena banyaknya karya jenis ini yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Selain dramanya yang terkenal, Lembah Dalam (1902), novelnya Ibunda sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.


Periode Sastra Revolusioner

Sepanjang abad ke-19 di Rusia berkembang gerakan-gerakan revolusioner untuk memperbaiki keadaan yang terbelakang akibat pemerintahan otokrasi. Perhatian yang semula ditujukan kepada kaum tani-budak, akhirnya ditujukan pada gerakan-gerakan buruh kaum urban di kota-kota. Karya-karya sastra yang didasari pemikiran religius dan filsafat. Akibatnya, berkembanglah aliran simbolisme.

Mereka meninggalkan realisme untuk kembali pada pilihan kaum romantik yang menyuguhkan impian dan fantasi dalam sastra. Tokoh-tokoh simbolis Rusia tahun 1890-an adalah Alexander Blok, penulis religius yang dalam karyanya, Dua Belas (1918), memandang kehidupan penuh kekotoran; Andrey Bely, novelis dan penyair, menulis St. Petersburg yang melukiskan konflik Barat-Timur menjelang ledakannya; Leonid Andreyev, yang mengawinkan realisme dan simbolisme dalam karyanya Tujuh Orang yang Digantung (1908); Ivan Bunin, pemenang Nobel tahun 1933, yang menulis Seorang Gentelmen dari San Fransisco (1915).

Kisah ini melukiskan seorang yang menjadi miliader berkat kerja keras namun tak bisa menikmati hidup. Pada jaman ini pula muncul penyair besar Vladimir Mayakowsky dengan karya-karyanya Awan dalam Celana (1915) dan Tersesat dalam Konferensi (1922). Penyair dan novelis Boris Pasternak menulis Si Kembar di Awan (1914) dan Saudara Perempuan Kehidupanku (1922).


Periode Sastra Soviet

Setelah Revolusi Komunis tahun 1917, berkembanglah sastra Soviet yang berisi gambaran kemenangan, kesejahteraan, dan kebenaran pemerintah. Sensor keras dilakukan bagi karya sastra yang mengritik pemerintah. Sastra menjadi alat bagi partai komunis dan pemerintah komunis untuk memperteguh komunisme. Dalam situasi demikian amat sedikit karya-karya sastra bermutu yang muncul. Meskipun begitu. terbit juga beberapa karya bermutu setelah ada sedikit kelonggaran dalam penerbitan buku di tahun 1920-an.

Beberapa sastrawan yang pantas dicatat adalah Isaak Babel, penulis serial novel, Kavaleri Merah (1926), yang mengisahkan kengerian akibat perang; Leonid Leonov, penulis Para Pembawa Panji (1924) dan Maling (1927) yang melukiskan akibat kejiwaan Revolusi Komunis bagi rakyat; Alexei Tolstoy, penulis Jalan ke Kalvari (19211941), kisah kehidupan kaum intelektual selama dan sesudah Revolusi Komunis.

Tahun 1930-an Uni Soviet mulai mengadakan pembangunan besar-besaran. Kesusastraan dan karya-karya sastra kembali menjadi alat propaganda sehingga jatuh mutunya kecuali beberapa penulis yang berhasil mengatasi niat propaganda dengan keterampilan dan kreativitas artistiknya, seperti Valentin Kataev dengan bukunya Waktu, Maju Terus (1932).

Sejak tahun 1930 berkembanglah sastra realismesosialis yang bertujuan membangun masyarakat sosialis dengan karya-karya sastra yang "mudah dimengerti rakyat". Para sastrawan digabungkan dalam organisasi sastrawan yang diawasi pemerintah, karenanya banyak sastrawan pembangkang yang dipenjarakan. Namun dalam jaman ini muncul juga karya-karya besar, antara lain karya Mikhail Sholokov yang berjudul Sungai Don yang Mengalir Tenang (1928-1940) dan Tanah Perawan Terbalik (1932-1960); karya Konstantin Simonov Siang dan Malam (1941); serta tulisan humoristik Anna Akhmatova dan Mikhail Zoschenko.


Periode Sastra Mutakhir

Sejak tahun 1953, setelah kematian diktator Joseph Stalin, bermunculan kembali sastrawan Rusia kelas dunia akibat mulai mengendor sensor pemerintah. Ilya Ehrenburg menulis novel-novel yang menggambarkan kenyataan kehidupan pahit dalam masyarakat, misalnya SaIju Keras dan Hari Penciptaan Kedua, pada permulaan tahun 1950-an.

Vladimir Dudintsev menyoroti korupsi dalam partai komunis dengan menulis novel Tidak dengan Roti Saja (1956). Alexander Solzhenitsyn menulis Suatu Hari dalam Kehidupan Ivan Denisovich yang melukiskan jeleknya kondisi kamp kerja pada masa Stalin. Pada masa ini terbit pula novel Boris Pasternak, Dokter Zhivago (1957), yang memberinya Hadiah Nobel tahun 1958.

Penyair-penyair muda liberal bermunculan, termasuk Yevgeny Yevtushenko yang membela kaum Yahudi di Rusia dalam Babi Yar (1961), Andrey Voznesensky yang terkenal karena sajak-sajak orisinalnya dengan imaji-imaji kompleks, dan Andrey Sinyavsky yang dengan nama samaran Abram Tertz menerbitkan cerpen-cerpennya di luar Uni Soviet tahun 1950-an.

Sejak tahun 1924 ketika Eugene Zamiatin menerbitkan Kami di luar Uni Soviet, semakin banyak penulis Rusia yang mengirimkan karyanya ke luar negeri. Setahun setelah Solzhenitzyn menerbitkan Lingkaran Pertama (1968) di luar negeri, sastrawan tersebut diasingkan oleh pemerintah ke luar negeri.

Karya-karya sastrawan Rusia banyak diperkenalkan di Indonesia dan banyak diterjemahkan, antara lain Dokter Zhivago. Suatu Hari dalam Kehidupan Ivan Denisovich, dan sajak-sajak Yevtushenko, Sinyavsky.

Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia, edisi 14, 1990/rielniro-Tuhor.com

Related Posts:

Leave a Reply

* Name:
* E-mail: (Not Published)
   Website: (Site url withhttp://)
* Comment:
Type Code
Mohon tunggu...