SMS/WA: 0812-9373-3251

0

Tidak ada produk

Pengiriman Ditentukan kemudian
Jumlah Rp‎ 0
Lihat cart Selesai

Produk berhasil ditambahkan ke cart.

Jumlah
Jumlah

Terdapat 0 item pada cart Anda. 1 item di cart.

Total produk (Termasuk pajak)
Total ongkos kirim (Termasuk pajak) Ditentukan Kemudian
Jumlah (Termasuk pajak)
Belanja Lagi Proses pembayaran

Kelir Slindet: Tatkala Cinta dan Realita Tidak Sejalan

Kelir Slindet: Tatkala Cinta dan Realita Tidak Sejalan

Kelir Slindet merupakan sebuah novel yang bercerita tentang cinta yang dibalut dalam realita hidup yang pahit dan getir sarat kemunafikan di tengah masyarakat Indramayu.

Cinta itu adalah misteri. Mungkin itu sebabnya cinta tak akan pernah berhenti menjadi permasalahan dari zaman ke zaman. Cinta tidak akan pernah bisa dimengerti dan dipahami, sekalipun oleh mereka yang sudah menikah. Mengapa? Karena cinta tidak sama dengan matematika yang mengandalkan logika dalam menyelesaikan masalah. Dalam matematika, jika A menyukai B dan B menyukai A maka A dan B saling menyukai. Tapi dalam Cinta, jika A menyukai B dan B menyukai A maka belum tentu A dan B saling menyukai selamanya. Hukum matematika bersifat mutlak. Hukum cinta bersifat cair. Sama seperti air yang akan mengambil rupa bentuk seperti wadahnya, demikian juga cinta. Cinta yang bersifat cair itulah yang diceritakan dalam novel Kelir Slindet karya Kedung Darma Romansha.

Novel ini menceritakan tentang Safitri, seorang gadis berumur 14 tahun dari desa Cikedung, Indramayu, yang dianugerahi bibir semerah kepundung, bersuara enak didengar. Ayahnya, Sukirman, suka main judi dan nyelembuk (main dengan pelacur), dan ibunya, Saritem, mantan telembuk (pelacur) yang diam-diam masih menjadi telembuk. Topik tentang Safitri yang cantik luar biasa tapi berasal dari keluarga tidak benar menjadi unsur utama cerita. Safitri disukai oleh semua orang mulai dari para lelaki yang suka berjoget di panggung dangdut tarling sampai para lelaki yang suka melantunkan ayat-ayat Allah dari dalam Mushala.

Safitri menyukai Mukimin, anak Haji Nasir yang satu sekolah dengan dirinya. Mukimin sering berpolah tolol dan menggelikan jika berada di dekat Safitri. Itulah yang membuat Safitri menyukai Mukimin. Mungkin karena Mukimin jujur dan apa adanya dan bisa membuat Safitri tertawa. Mukimin juga menyukai Safitri walaupun ia tahu bapaknya yang seorang Haji tidak akan pernah menyetujui jika ia berpacaran dengan Safitri, anak seorang tembeluk. Tapi Mukimin tidak peduli dengan semua itu karena kecantikan Safitri yang digambarkan seperti ini:

“Baju Safitri yang putih dan sedikit basah menimbulkan warna kulitnya yang terlihat langsat. Aroma minyak wangi, keringat, dan air hujan di tubuhnya membuat hati Mukimin bergetar.”

Diam-diam, Mustafa, guru ngaji Safitri, yang juga anak dari Haji Nasir dan kakak dari Mukimin, juga menaruh hati kepada Safitri. Mustafa suka mengajak Safitri ngobrol-ngobrol setelah mengaji yang digambarkan seperti ini:

Sejenak Mustafa terpaku melihat leher Safitri. “Masuk dulu, saya mau bicara sebentar,” Safitri masuk dengan canggung. “Kamu itu cantik, pandai mengaji, dan suaramu bagus. Tapi kenapa memakai kerudung saja tidak bisa,” sindir Mustafa sambil sesekali mencuri pandang ke leher Safitri. Ia menutupi gejolak dalam dirinya.

Haji Nasir sudah sering mengingatkan Mustafa untuk segera menikah. Suatu kali Haji Nasir menemukan sobekan cerita porno dari dalam kantong celana Mukimin. Mukimin pun membela diri bahwa ia menyobeknya dari buku berjudul Cintaku Hilang di Ranjang milik kakaknya, Mustafa. Tak bisa dihindari, Mustafa dimarahi oleh ayahnya. Haji Nasir pun meminta Mustafa untuk segera menikah yang digambarkan seperti ini:

“Apa bapak bilang, sudah waktunya kamu menikah. Bapak sudah sarankan Asih, anaknya Kaji Warta. Dia baik, dan dari keluarga yang baik-baik. Asih cantik, sarjana ekonomi, dan sholehah lagi. Apa yang kamu tunggu, Mus?”

Tidak perlu menunggu lama, Mustafa datang ke rumah Safitri dengan niat melamar dirinya sebagai istri. Ibu Safitri, Saritem kaget bercampur senang mendengar keinginan Mustafa yang ingin mempersunting anaknya. Saritem sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika Safitri menikah dengan Mustafa: ia tidak perlu lagi melaksanakan niatnya menjadi TKW dan martabat keluarganya akan meningkat di mata masyarakat.

Safitri yang sudah menyerahkan hatinya kepada Mukimin, menolak lamaran Mustafa. Ibunya yang tidak tahu kalau Safitri dan Mukimin sudah berpacaran, bingung dengan apa yang dipikirkan oleh anaknya sehingga menolak pinangan Mustafa.

Sementara itu kabar mengenai Mukimin yang menjalin kasih dengan Safitri terdengar sampai ke telinga Haji Nasir. Haji Nasir yang marah besar langsung memanggil Mukimin dan mengingatkan agar tidak lagi berhubungan dengan Safitri, karena ia bukan berasal dari keluarga baik-baik. Perihal kemarahan Haji Nasir terdengar sampai ke Saritem. Saritem tidak terima keluarganya direndahkan. Ia pun pergi ke rumah Haji Nasir. Di depan rumahnya, Saritem teriak-teriak, marah-marah, dan mencaci Haji Nasir. Haji Nasir yang sok suci itu ternyata pernah memiliki hubungan dengan Saritem.

Layaknya kisah Romeo dan Juliet, kisah cinta dua manusia yang berdiri di antara kisah dua keluarga yang berkonflik. Tapi kisah Safitri dan Mukimin tidak berhenti dengan minum racun bersama dan mati bersama cinta mereka berdua.

Sejak cinta mereka ditentang oleh keluarga, Safitri dan Mukimin tidak pernah bertemu lagi. Safitri jadi mengurung diri di kamar. Ia tidak pergi ke sekolah dan tidak pernah lagi mengaji. Di dalam kamarnya, ia lebih sering berjoget sambil menyanyikan lagu dangdut tarling yang ia dengarkan dari tape. Saritem sudah membujuk Safitri untuk kembali ke sekolah. Safitri menjawab dengan enteng: lebih enak jadi penyanyi dangdut, bisa dapat duit.

Kabar tentang Safitri dan Mukimin menjadi bahan pembicaraan di masyarakat. Ada yang bilang Safitri menggunakan ilmu dukun sehingga Mustafa, Mukimin dan lainnya bisa suka kepadanya. Ada yang bilang Haji Nasir memelihara tuyul dan akibatnya sekarang ke dua anaknya jadi suka dengan anak telembuk.

Kabar simpang siur mengenai Safitri yang stres mencapai titik puncaknya ketika pada suatu malam, Safitri tiba-tiba muncul di atas panggung dangdut dengan pakaian yang seksi, menari-nari bersama Ratini, penyanyi dangdut ternama di Cikedung. Beberapa lelaki mulai berebutan naik ke atas panggung untuk bisa ikut berjoget. Dengan hanya bermodalkan beberapa uang ribuan, para lelaki itu sudah bisa berjoget bersama Safitri dan Ratini sambil memegang-megang tubuh mereka. Saat memegang tubuh Safitri, Kaji Caca menyadari kalau Safitri sedang hamil. Kaji Caca segera melapor ke Sukirman, ayah Safitri. Saat Safitri ditanya apakah benar ia hamil, Safitri tidak berusaha menutupi, ia menjawab iya. Hanya saja Safitri tidak memberitahu siapa yang membuat dia hamil.

Penulis sepertinya ingin membuat pembaca menyimpulkan sebenarnya mana yang benar dan mana yang salah? Apakah keluarga Safitri? Atau keluarga Haji Nasir? Lalu apa sebenarnya kebenaran yang diterjemahkan dalam novel ini?

Mungkin kalimat untuk menjawabnya ada pada bagian ini: Sebab kebenaran bukan pada pikiran, melainkan pada kenyataan. Dan terkadang kebenaran dibenarkan lewat pikiran bukan pikiran yang dibenarkan lewat kenyataan. Seperti cinta, yang dapat dirasakan melalui tindakan bukan justru sibuk dengan mengolah pikiran untuk memahami cinta.

Selepas membaca buku ini, pembaca akan menjadi tahu lebih banyak tentang budaya dan mentalitas masyarakat di Indramayu. Sekaligus mengajak kita untuk tidak mudah menghakimi, tak terjebak merasa diri paling benar dan mudah mendakwa orang. (dewa-tuhor.com)


DATA BUKU

Judul: Kelir Slindet
Penulis: Kedung Darma Romansha
Kategori: Roman/Sastra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Maret 2014)
ISBN: 978-6020303567
Ukuran Buku: 13.5 x 20 cm
Jumlah halaman: 252 hal

Untuk pembelian buku, klik di sini atau pesan via SMS/WA ke 0812-9373-3251 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan.

Leave a Reply

* Name:
* E-mail: (Not Published)
   Website: (Site url withhttp://)
* Comment:
Type Code
Mohon tunggu...